This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 25 November 2022

Iman kepada Hari Kiamat

 Iman kepada Hari Kiamat

Pengertian dan Dalil

Umat Islam wajib percaya dan yakin bahwa hari akhir atau hari kiamat itu pasti akan datang. Kelak manusia akan dibangkitkan kembali dari kubur untuk menerima pengadilan Allah swt. Perhatikan firman Allah berikut:

Artinya: "Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur." (QS. al-Hajj/22: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa hari Kiamat itu bukanlah omong kosong, tapi kejadian yang benar adanya. Hanya saja, manusia tidak ada yang tahu, kapan itu akan terjadi. Ini adalah rahasia Allah swt. Hanya Allah yang Maha Tahu kapan hari Kiamat akan terjadi. Ketika kiamat tiba, bumi akan hancur, semua makhluk mati, lalu Allah menghidupkan kembali manusia dari dalam kubur.
Iman kepada hari kiamat adalah percaya dan meyakini bahwa seluruh alam termasuk dunia dan seisinya akan mengalami kehancuran. Hari akhir ditandai dengan ditiupnya terompet Malaikat Israfil. Dijelaskan bahwa pada hari itu daratan, lautan dan benda-benda di langit porak-poranda. Gunung-gunung meletus, hancur, dan berhamburan. Bumi berguncang dan memuntahkan isi perutnya. Lautan meluap dan menumpahkan seluruh isinya. Benda-benda yang ada di langit bergerak tanpa kendali. Bintang, planet, dan bulan saling bertabrakan.

DUA MACAM KIAMAT

 

Para ulama mengelompokkan kiamat menjadi dua macam, yaitu:

 

a. Kiamat Shughra (Kiamat Kecil)

 

Yaitu terjadinya kematian yang menimpa sebagian umat manusia. Misalnya: matinya seseorang karena sakit, kecelakaan, musibah tsunami, banjir, tanah longsor, dan sebagainya.

Tragedi Tsunami di Aceh Tahun 2004 Menelan Korban Ratusan Ribu Jiwa

b. Kiamat Kubra (Kiamat Besar)

 

Yaitu terjadinya kematian dan kehancuran yang menimpa seluruh alam semesta. Dunia porak-poranda, rusak, dan hancur. Kehidupan manusia akan berganti dengan alam yang baru yakni alam akhirat.

Macam Macam Mad

 

Macam Macam Mad

Ketika membaca Al-Quran, sangat penting untuk mengetahui bagaimana setiap hukum bacaan tersebut. Salah satu hukum bacaan itu adalah mad. Ada macam-macam mad yang perlu diketahui. Secara bahasa, mad memiliki arti yaitu panjang. Sehingga, apabila menemui hukum bacaan mad ketika membaca Al-Quran, janganlah memendekkan bacaan tersebut.

Mad sendiri memiliki berbagai macam jenis.Berikut ini penjelasan lengkap tentang macam-macam mad.

1.  Mad thabi’i 

Mad thabi'i adalah hukum mad yang asli dan masih murni, dimana Mad artinya panjang dan Thabi'i artinya biasa. Mad thobi'i ini terjadi jika:

  • Huruf berharakat fathah yang bertemu dengan alif
  • Huruf berharakat kasrah yang bertemu dengan ya sukun
  • Huruf berharakat dhammah yang bertemu dengan waw sukun

Adapun cara membacanya yaitu harus panjang dua harakat yang disebut dengan satu alif. Berikut contohnya:

سمِيْعٌ  dibaca: Samii'un

يَقُوْلُ  dibaca: Yaquulu

كتَا بٌ  dibaca: Kitaabun

2.  Mad far'i 

Mad far’i dari segi bahasa memiliki arti cabang. Sedangkan dari istilahnya, mad far’i yaitu hukum bacaan yang merupakan tambahan dari mad asli. Panjang bacaannya sendiri yaitu dua setengah alif atau sama dengan 2, 4, atau 6 ketukan.

Mad far'i dibaca panjang karena adanya hamzah, sukun, tasydid, maupun waqaf. Sesuai dengan hal tersebut, mad far'i dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu mad lin, mad wajib muttasil, mad arid lissukun, mad jaiz munfasil, mad badal, mad tamkin, mad 'iwadh dan sebagainya.

3.  Mad wajib muttasil 

Mad wajib muttasil ini terjadi semisalnya mad thabi'i tadi bertemu dengan hamzah (ء) di dalam satu kata atau kalimat. Sehingga untuk cara membacanya maka wajib memanjangkan sampai 5 harakat atau yang setara dengan 2 setengah kali dari mad thabi'i yaitu dua setengah alif.

Contohnya seperti yang terdapat pada Surat Ad-Duha ayat 8:

وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ 

Dibaca: wawa jadaka 'aaailang fa aghnaa

4.  Mad jaiz munfasil 

Mad jaiz munfasil akan terjadi jika mad thabi'ibertemu dengan hamzah (ء), akan tetapi hamzah ini terdapat di kalimat yang lain. Untuk jaiz sendiri memiliki arti boleh, sementara munfasil aritnya adalah terpisah.

Jika menemukan mad ini saat membaca alquran, maka diperbolehkan membacanya seperti mad wajib muttasil tadi. Akan tetapi, juga diperbolehkan seperti mad thabi'i.

Contohnya seperti yang terdapat pada surat Al-Kautsar ayat 1:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Dibaca: Innaa a'thaiynaakal kautsar

5.  Mad lazim muthaqqal kalimi 

Mad lazim mutsahaqqal kalimi yaitu jika ada mad thabi'i yang kemudian bertemu dengan tasydid di dalam satu kata atau ayat. Untuk cara membaca mad ini harus panjang hingga tiga kali mad thabi'i atau diibaratkan sekitar 6 harakat.

Contohnya sebagai berikut:

ولا الضآلّين

Dibaca: Walad dhaalliiin

Baca Juga: Surat Yunus Ayat 69-91 Arab: Arti, Kandungan dan Keutamaan

6. Mad lazim mukhaffaf kalimi 

Mad lazim mukhaffaf kalimi adalah mad yang terjadi apabila mad thabi'i bertemu huruf mati atau huruf sukun. Adapun cara membacanya yaitu dibaca sepanjang enam harakat.

Uniknya, di dalam Al-Quran sendiri, hanya terdapat dua Mad lazim mukhaffaf kalimi. Yaitu pada surat Yunus ayat 51 dan juga 91. Berikut bacaannya:

(51) أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ ۚ آلْآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ

(91) آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Dibaca: 

(51) A ṡumma iżā mā waqa'a āmantum bih, āl-āna waqad kuntum bihī tasta'jilụn

(91) āl-āna wa qad 'aṣaita qablu wa kunta minal-mufsidīn

7.  Mad layyin 

Mad layyin ini terjadi jika ada wawu (و) dan ya (ي) yang berharakat sukun beserta huruf sebelumnya memiliki harakat fathah dan kemudian di depannya lagi ada huruf yang dimatikan karena waqaf. Untuk cara membacanya yaitu membaca mad sepanjang 2, 4, atau 6 harakat.

Mad layyin ini hanya terjadi saat kondisi waqar atau berhenti saja. Berikut contohnya:

رَيْبٌ

Dibaca: roiib

8.  Mad arid lissukun 

Mad arid lissukun akan terjadi jika berhenti di akhir ayat sehingga mematikan huruf terakhir. Sedangkan sebelum huruf tersebut, terdapat mad thabi'i. Sehingga cara membuatnya ini dibagi lagi menjadi tiga macam:

  • Yang paling utama panjangnya dibaca seperti mad wajib muttasil yang setara dengan  6 harakat
  • Yang pertengahan maka panjangnya bisa dibaca hingga empat harakat yaitu, dua kali dari mad thabi'i
  • Yang pendek yaitu boleh dibaca sepanjangmad thabi'i saja, yaitu dua harakat

Contohnya yaitu:

سَمِيْعٌ

Dibaca: Samii'

9.  Mad silah qasirah 

Mad silah qasirah akan terjadi saat 'ha dhamir' ada di antara dua huruf hidup yang berbaris. Sehingga Anda harus membacanya dengan panjang seperti mad thabi'i.

Contoh bacaannya yaitu:

اِنَّهُ كَانَ ﻻَشَرِيْك لَهُ

Dibaca: Innahu kaana laa syariika lahh

10. Mad ‘iwadh 

Mad 'iwadh ada jika terdapat fathatain yang telah ditemukan di waqaf atau pemberhentian di akhir ayat atau kalimat. Cara membaca mad 'iwadh ini juga seperti mad thabi'i. Tetapi bunyi dari fathatain dihilangkan dan dibaca seperti fathah biasa.

contohnya yaitu sebagai berikut:

عفواً غفوراً

dibaca: afwan ghafuraa

Baca Juga: Surat Ad-Duha Ayat 1-11 Arab: Arti, Kandungan dan Keutamaan

11.  Mad badal 

Mad badal terjadi apabila adanya hamzah yang lalu bertemu sebuah mad dalam satu kata. Sehingga, harus dibaca panjang seperti mad thabi'i.

Contohnya berikut ini:

قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ

Dibaca: Qaala yaa adama anbikhum bi asmaaihim ..

12.  Mad lazim mukhaffaf harfi

Mad lazim mukhaffaf harfi ini terjadi saat membaca huruf tunggal pada permulaan surat dalam Al-Quran. Caranya yaitu dengan membacanya sepanjang 6 harakat dan tidak disertai dengan idgam. Huruf ain (ع) boleh dibaca 4 atau 6 harakat.

Contoh mad lazim mukhaffaf harfi, yaitu:

ن والقلم

Dibaca: nuun, wal qalami ...

13.  Mad tamkin 

Mad tamkin ini terdapat pada ya bertasydid (يّ) dan ya berkasrah (يِ)  yang telah. Mad tamkin ini dibaca sepanjang 2 harakat seperti mad thabi'i

Contoh kata dari mad tamkin yaitu:

النبيين

Dibaca: an-nabiyyiin


Mad Asli dalam Ilmu Tajwid

 

Mad Asli dalam Ilmu Tajwid

Mempelajari ilmu tajwid sangat diperlukan agar kita lebih khidmat dalam membaca kitab suci Al-Qur'an. Ilmu tajwid yang paling mendasar yaitu hukum bacaan mad asliatau biasa disebut mad tabi'i.

Bacaan mad memiliki begitu banyak macam dan ragam. Beberapa diantaranya adalah mad asli atau mad tabi'i, mad wajib muttashil, mad jaiz munfashil, mad lazim mustaqqal kilmi, mad lazim mukhaffaf kilmi, mad layyin, dan mad lazim musyabba'.

Mad asli adalah salah satu ilmu tajwid yang paling banyak ditemukan dalam ayat suci Al-Qur'an. Maka dari itu, penting bagi umat muslim untuk mempelajarinya agar bisa diaplikasikan dengan baik.

Mad secara bahasa memiliki pengertian panjang, sedangkan tabi'i artinya biasa. Berarti mad tabi'i merupakan bacaan Al-Qur'an yang cara bacanya dipanjangkan secara biasa.

Hukum bacaan mad yang akan dibahas kali ini yaitu mad asli. Mengutip dari buku Panduan Cepat dan Mudah Membaca Al-Qur'an yang disusun oleh AR. Suku Radja, hukum bacaan mad asli adalah mad yang terjadi karena adanya 3 huruf tertentu, antara lain; ي (Ya), و (Waw) dan ا (Alif). Ukuran panjangnya sendiri adalah 2 harakat.

Maksudnya, terjadi apabila huruf ا (Alif) yang jatuh setelah harakat fathah. Lalu huruf و (Waw) yang jatuh setelah harakat dhammah dan huruf ي (Ya) yang jatuh setelah harakat kasrah.

Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan pengaplikasian bacaan mad asli:

1. إِيَّاكَ

Dalam contoh pertama terdapat Alif ( ا ) yang harakat sebelumnya fathah. Lantas, cara membacanya adalah "Iyyaaka". Huruf Ya dalam kata tersebut dibaca panjang sebanyak dua ketukan karena termasuk ke dalam mad asli.

2. كَفَرُوْ

Dalam contoh kali ini ada huruf Waw (و) dan harakat sebelumnya dhammah. Jadi, cara membacanya adalah "Kafaruu". Huruf Ro dibaca panjang sebanyak dua harakat karena tergolong sebagai mad asli.

2. عَظِيْمٌ

Dalam contoh selanjutnya ada Ya sukun (ي ) dengan harakat kasrah sebelumnya. Berarti, cara membacanya adalah "Adziimun". Huruf Dzo dalam kata tersebut dibaca panjang sebanyak dua harakat karena ada hukum mad asli.

Selain contoh contoh di atas, ada juga contoh lain dari mad tabi'i dalam ayat suci Al-Qur'an, antara lain:

1. QS. Al-Maun Ayat 3

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِينِ

Latin: "Wa lā yaḥuḍḍu 'alā ṭa'āmil-miskīn"

2. QS. Al-Quraisy Ayat 4

ٱلَّذِىٓ أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍۭ

Latin: "Allażī aṭ'amahum min jụ'iw wa āmanahum min khaụf"

3. QS. An-Nas Ayat 1

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Latin: "Qul a'uuzu birabbin naas"



Perilaku Jujur dalam Islam

 

Perilaku Jujur dalam Islam: Pengertian, Dalil, Macam Sifat dan Hikmah


Perilaku Jujur dalam Islam: Pengertian, Sifat, Ciri, Hikmah, Dalil – Allah SWT memerintahkan hambanya untuk selalu jujur kepada orang lain dan juga kepada diri sendiri. Perintah untuk berperilaku jujur tidak hanya ada di dalam Al-Quran, namun juga ada di dalam hadits Nabi Muhammad. Allah SWT memerintahkan umatnya untuk selalu mengatakan kebenaran walaupun hal itu bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri.

Allah SWT juga memerintahkan untuk tidak mengkhianati orang lain atau bahkan menipu orang lain. Tidak hanya dalam perkataan saja, Allah menyuruh hambanya untuk jujur terhadap perbuatannya, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Di bawah ini adalah tulisan untuk memahami perilaku jujur dalam pandangan Islam.

Pengertian Perilaku Jujur

Perilaku jujur

pixabay

Kejujuran adalah aspek moral yang memiliki nilai positif dan baik. Kejujuran punya kata lain seperti berterus terang. Lawan dari kejujuran adalah kebohongan, kecurangan dan lain-lain. Di dalam sifat kejujuran juga melibatkan sikap yang setia, adil, tulus dan dapat dipercaya. Kejujuran adalah sifat yang dihargai oleh banyak etnis budaya dan agama. Jadi, tidak hanya agama Islam saja yang mengharuskan umatnya untuk menjunjung tinggi sifat kejujuran.

Kata jujur menyiratkan sebuah perkataan kebenaran dalam semua situasi dan semua keadaan. Kejujuran juga bisa memiliki arti memenuhi janji, baik itu janji yang tertulis maupun tidak tertulis. Tidak hanya memenuhi janji, memberikan pendapat dan nasihat yang benar juga disebut dengan kejujuran.

Kejujuran juga bisa berarti melakukan sebuah pekerjaan dengan tulus dan sebaik mungkin. Meskipun melakukan pekerjaan tersebut tidak diawasi oleh orang lain, tetap harus mengerjakannya dengan jujur. Memberikan hak kepada orang yang berhak mendapatkan hak tersebut juga bisa disebut dengan perilaku jujur.

Seperti kata pepatah mengatakan, “Kejujuran adalah sesuatu yang mahal’, memang benar adanya. Berperilaku jujur sangat terasa berat, terlebih lagi untuk diri sendiri. Memang, tidak semua orang senang dengan kejujuran, tetapi kejujuran tidak selamanya membuat orang-orang bahagia, ada juga kejujuran yang bisa membuat orang sakit hati. Tidak hanya membuat orang lain sakit hati, kejujuran bahkan bisa membuat kita dibenci oleh orang lain.

Sebetulnya, tidak ada dasarnya atau alasan kita untuk berbohong. Orang yang jujur pasti akan mengakui kesalahan yang diperbuatnya, terlebih jika kita merasa bersalah karena hal itu merugikan orang lain. Dengan bertindak jujur, maka bisa meringankan masalah dan tidak menimbulkan masalah yang baru lagi nantinya.

Jika manusia sudah terbiasa untuk berbohong dalam hidupnya, maka tentunya sangat berat untuk berperilaku jujur dan akan selalu terdorong untuk melakukan kebohongan-kebohongan lainnya.

Kejujuran bukanlah sesuatu yang tidak kita sadari lakukan, namun kita secara sadar dan memahami bahwa segala tindakan yang kita lakukan memiliki dampak baik maupun buruk. Begitu pula dengan mengatakan kejujuran maupun kebohongan. 

Dalil Perilaku Jujur dalam Islam

Dalil tentang perilaku jujur tidak hanya dituliskan dalam Al-Quran, namun juga terdapat dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Berikut adalah beberapa dalil tentang perintah untuk berperilaku jujur.

Perilaku jujur merupakan sifat dari orang-orang mukmin, hal ini tertera dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 23-24 yang berbunyi,

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ
لِيَجْزِيَ اللّٰهُ الصّٰدِقِيْنَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ اِنْ شَاۤءَ اَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًاۚ

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya),”

“agar Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan mengazab orang munafik jika Dia kehendaki, atau menerima taubat mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Di dalam surat Al-Ahzab ayat 35 dijelaskan, orang-orang muslim yang berperilaku jujur akan diberikan pahala yang besar , ayat tersebut berbunyi,

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذَّاكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذَّاكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar ayat 33-35 dijelaskan bahwa orang-orang yang bertakwa merupakan orang yang berkata benar atau berkata jujur, ayat tersebut berbunyi,

وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
لَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ ذٰلِكَ جَزٰۤؤُا الْمُحْسِنِيْنَۚ
لِيُكَفِّرَ اللّٰهُ عَنْهُمْ اَسْوَاَ الَّذِيْ عَمِلُوْا وَيَجْزِيَهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ الَّذِيْ كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa.”
“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhannya. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik,”
“agar Allah menghapus perbuatan mereka yang paling buruk yang pernah mereka lakukan dan memberi pahala kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.”

Kejujuran adalah sebuah perilaku yang mementingkan objektivitas dalam penilaian atau dalam mengambil keputusan. Kejujuran juga berarti tidak mengambil hak orang lain atau berlaku curang. Hal ini diperingatkan oleh Allah dalam surat Al-Muthaffifin ayat 1-6 yang berbunyi,

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ
الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ
وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ
اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ
لِيَوْمٍ عَظِيْمٍۙ
يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَۗ

  1. “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!”
  2. “(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,”
  3. “dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”
  4. “Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,”
  5. “pada suatu hari yang besar,”
  6. “(yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.”

Perintah untuk berperilaku jujur juga dituliskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad mengatakan bahwa berperilaku jujur akan mengantarkan kita pada kebaikan. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang berbunyi :

“Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW bersabda; sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa (pelakunya) ke surga dan orang yang membiasakan dirinya berkata benar(jujur) sehingga ia tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar, sesungguhnya dusta itu membawa pada keburukan (kemaksiatan) dan keburukan itu membawa ke neraka dan orang yang membiasakan dirinya berdusta sehingga ia tercatat disisi Allah sebagai pendusta.”

Kewajiban untuk berperilaku jujur juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, yang berbunyi,

عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ ر.ض. قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ, فَاِنَّهُ مَعَ البِرَّ وَهُمَا فِى الْجَنَّةِ, وَاِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ
فَاِنَّهُ مَعَ الْفُجُوْرِوَهُمَافِى النَّار.

“Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di Surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, Karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”.

Macam Sifat Jujur dalam Islam

Di dalam agama Islam ada sifat-sifat jujur yang harus dipahami, yaitu:

1. Shiddiq Al-Qalbi

Shiddiq Al-Qalbi adalah sifat jujur yang diterapkan oleh manusia dalam niatnya. Dalam berniat tentunya disertai keikhlasan dalam melakukan perbuatan tersebut. Amal perbuatan haruslah didasari dengan niat yang baik, niat untuk beribadah hanya kepada Allah SWT semata.

Jika amal tidak berdasarkan untuk beribadah kepada Allah SWt, maka akan gugur pahala dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Hakim, hadits tersebut berbunyi,

فَقَالَ : مَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَقَرَأْتُ الْقُرْآنَ وَعَمِلْتُهُ فِيكَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، إِنَّمَا أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ فُلاَنٌ عَالِمٌ ، وَفُلاَنٌ قَارِئٌ ، فَقَدْ قِيلَ ، فَأُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Kemudian ditanyakan (kepadanya): “Apa yang engkau perbuat sewaktu di dunia?” ia menjawab: “Aku menuntut ilmu dan membaca Alquran serta mengamalkannya di jalan-Mu.” Lalu dijawab, “Bohong! Kamu melakukannya hanya ingin disebut sebagai orang yang alim, yang qari.” Kemudian Allah memerintahkan untuk disungkurkan wajahnya dan dilemparkan ke dalam api neraka.”

2. Shiddiq Al-Hadits

Shiddiq Al-Hadits adalah sifat jujur yang diterapkan oleh manusia pada perkataan yang diucapkannya. Umat Islam diperintahkan untuk selalu menjaga perkataannya. Perkataan yang harus diucapkan adalah sebuah kebenaran, bukan kebohongan. Kebohongan akan menuntun ke dalam kebohongan-kebohongan lainnya. Orang-orang yang beriman diperintahkan oleh Allah SWT untuk berkata jujur seperti yang tertera di dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 70 yang berbunyi,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkan lah perkataan yang benar.”

3. Shiddiq Al-Amal

Shiddiq Al-Amal adalah sifat jujur yang dilakukan oleh manusia dalam melakukan segala perbuatannya. Jujur dalam melakukan suatu perbuatan merupakan derajat yang sangat tinggi. Orang yang jujur dalam melakukan amalan atau perbuatannya berarti tidak memiliki riya di dalam hatinya, ia tidak mengharapkan pujian dari manusia, namun hanya berharap pujian dari Allah SWT semata. orang yang jujur tidak akan ragu-ragu untuk melakukan kebaikan, hal ini tertera dalam surat Al-Hujurat ayat 15, yang berbunyi,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

4. Shiddiq Al-wa’d

Shiddiq Al-wa’d adalah sifat jujur yang diterapkan oleh manusia dalam menepati janjinya kepada orang lain. Tidak hanya janji kepada orang lain, namun juga janji kepada dirinya sendiri. Misalnya, jika seseorang mendapatkan harta dari segala jerih payahnya, dan berjanji untuk memberikan sebagian kepada orang yang membutuhkan, maka itu termasuk dalam jujur untuk menepati janji. Hal ini dituliskan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 23 yang berbunyi,

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)”

5. Shiddiq Al-Hall

Shiddiq Al-Hall adalah sifat jujur yang diterapkan oleh manusia pada segala hal yang dia lakukan. Misalnya, jujur dalam berpendapat, jujur dalam melakukan pekerjaan, jujur jika diberikan amanat, dan tidak ada sifat iri atau dengki di dalam hatinya. Ketika seseorang berperilaku jujur baik dalam perkataan dan perbuatannya, maka akan ditunjukkan dalam jalan kebaikan seperti yang tertera dalam hadits Nabi Muhammad, riwayat Bukhari dan muslim,

عَلَـيْكُمْ بِـالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَـهْدِى اِلىَ اْلبِرِّ وَ اْلبِرُّ يَـهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الـرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَـتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيـْقًا. وَ اِيـَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَـهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اْلفُجُوْرُ يَـهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا

“Wajib bagi kalian untuk jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan seseorang senantiasa jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan takutlah kalian dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta dan memilih berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Setiap perbuatan yang kita lakukan akan ada konsekuensinya, begitu pula dengan kejujuran. Pada buku Hasil Sebuah Kejujuran oleh Ami Raksanagara dijelaskan mengenai nilai kejujuran, rajin, hati yang bersih, halus rasanya, dan masih banyak lagi.

Orang muslim yang selalu berperilaku jujur akan diberikan hak-hak istimewa oleh Allah SWT. Tidak hanya mendapatkan pahala untuk akhirat, namun juga ada balasan di dunia. Berikut adalah hikmah dari memiliki perilaku jujur yaitu:

1. Kejujuran akan membawa kepada hal-hal yang baik

Orang yang berperilaku jujur tentunya akan dituntun kepada hal-hal yang baik. Misalnya seperti lebih bahagia, tidur lebih tenang karena tidak ada beban di dalam hatinya, dan lain-lain. Hal ini tertera dalam surat Muhammad ayat 21 yang berbunyi,

طَاعَةٌ وَّقَوْلٌ مَّعْرُوْفٌۗ فَاِذَا عَزَمَ الْاَمْرُۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۚ

“Yang lebih baik bagi mereka adalah) taat (kepada Allah) dan bertutur kata yang baik. Sebab apabila perintah (perang) ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”

2. Orang yang jujur akan memperoleh surga dari Allah SWT

Orang yang selalu berperilaku jujur akan memperoleh manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Allah bahkan menjanjikan surga untuknya, seperti yang dituliskan dalam Al-Quran surat Al-maidah ayat 119 yang berbunyi,

قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْ ۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.”

3. Memiliki Banyak Teman

Selain mendapat kebaikan di akhirat, orang yang berperilaku jujur cenderung memiliki banyak teman atau kerabat. Orang yang jujur tentunya akan lebih banyak disukai oleh orang-orang yang jujur juga.

4. Hidup lebih damai dan bahagia

Selain mendapatkan lebih banyak teman, orang yang berperilaku jujur akan memiliki hidup yang lebih tenang dan damai karena efek positif yang hadir ketika kamu mengatakan hal yang jujur dan benar.

5. Lebih percaya diri

Orang yang jujur pada dirinya sendiri maupun orang lain cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini karena dia tidak berbohong jika ingin mendapatkan sesuatu. Ia percaya dengan menjadi orang yang jujur tidak akan membawa hasil yang mengecewakan.

Ciri-Ciri Orang Jujur

Untuk melihat seseorang sedang berperilaku jujur atau tidak, bisa dilihat dari ciri-cirinya. Ciri-ciri perilaku jujur, sebagai berikut:

1. Berkata yang sebenarnya
2. Selalu taat pada perintah dan menjauhi larangan Allah
3. Tidak melakukan ingkar janji terhadap orang lain
4. Selalu percaya dengan ajaran Allah SWT dan Rasu-Nya
5. Berusaha untuk bersikap adil
6. Melakukan suatu hal sesuai dengan perbuatannya

Contoh Perilaku Jujur dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada dasarnya, untuk melihat seseorang sedang berperilaku jujur bisa dilihat di mana saja dan kapan saja. Di bawah ini akan diberikan contoh perilaku jujur di sekolah dan di rumah

Contoh Perilaku Jujur di Sekolah

1. Tidak mencontek saat mengerjakan soal ujian
2. Tidak membohongi uang pembayaran sekolah
3. Tidak berkata bohong kepada teman, guru, dan staff sekolah
4. Tidak berbohong saat membeli makanan di kantin

Contoh Perilaku Jujur di Rumah

1. Tidak mengambil sisa uang atau kembalian saat berbelanja
2. Selalu mengakui kesalahan ketika berbuat salah
3. Tidak berbohong kepada anggota keluarga di rumah
4. Jangan mengambil properti rumah tanpa izin
5. Berbicara apa adanya dan jangan melebih-lebihkan suatu informasi